keSEDERHANAan itu keSEMPURNAan

Kesederhanaan berfikir, berkata dan bertindak menuju kesempurnaan hidup

  • keSEDERHANAanku

    November 2009
    S S R K J S M
    « Mar    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • <

ORANGTUA DAN GURU YANG SEHATI

Ditulis oleh iwanhendrawan di/pada 7 Maret 2009

Iwan Hendrawan, Sabtu, 7 Maret 2009, 12.40 WIB

Orangtua sangat menginginkan anaknya berguna bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat atau negara. Hal ini pasti hal paling membanggakan yang dapat dirasakan orang tua. Orang tua berkeyakinan bahwa anak merupakan “aset” mereka yang harus diprioritaskan.

Mereka bekerja untuk membesarkan dan mendidik mereka. Mereka memberikan yang “terbaik” bagi anaknya. Mereka sudah menyiapkan dana pendidikan anaknya hingga perguruan tinggi. Luar biasa persiapan orangtua.

Guru menjadi pihak yang menerima tanggung jawab orang tua untuk mendidik (mengajar) generasi masa depan. Dengan kemampuan dan “keterbatasan” guru, guru menjadi orang tua kedua di sekolah.

Guru di sekolah dikategorikan sebagai guru kelas (Wali Kelas) dan guru mata pelajaran. Wali Kelas mempunyai tanggung jawab “lebih besar” dibanding guru bidang studi. Wali Kelas harus mengenal siswa-siswinya. Dia harus memotivasi, mendampingi, dan memantau perkembangan akademis siswanya. Karena saat rapor dibagikan, orangtua murid akan menanyakan banyak hal tentang anaknya. Bagaimana kemajuan anaknya. Dan hal-hal kecil lainnya sehingga orangtua puas dan merasa mengenal anaknya jika berada di sekolah. Guru bidang studi biasanya hanya memantau nilai akademis siswa-siswinya. Hal ini dikarenakan tatap muka yang singkat tiap bulannya dan hanya diminta menyerahkan nilai untuk diolah dalam buku rapor.

Belajar dari kasus David H Wijaya, mahasiswa pintar asal Indonesia, tewas di Nanyang Tech University, Singapura, Rhenald Kasali Pengajar di Universitas Indonesia, menekankan 10 elemen yang harus dipunyai anak saat ia masuk sekolah/kampus, yaitu:

1.         percaya diri,
2.         rasa nyaman,
3.         kontrol diri,
4.         cinta,
5.         otonomi,
6.         keluarga,
7.         rasa adil,
8.         kinerja,
9.         perubahan, dan
10.     kepercayaan (trust).

Elemen-elemen itu dapat dibagi tiga:

1.      rasa percaya,

2.      hubungan personal, dan

3.      pengendalian hidup.

Ketiganya memengaruhi tingkat kecemasan, pengambilan keputusan, asumsi terhadap orang lain, ketenangan/kecemasan, dan keberhasilan hidup.

Kategori pertama diwakili oleh percaya diri dan perasaan bernilai, percaya kepada orang lain, dan merasa diperlakukan adil. Monolognya mengalir dalam pernyataan seperti ”saya cukup bernilai”, ”mereka dapat dipercaya”, ”mereka memperlakukan saya dengan adil”.

Kategori kedua, kenyamanan, cinta (love), dan keluarga (belonging). Orang-orang yang hidupnya seimbang cenderung penuh cinta dan ada yang memikirkan. Kata mereka, ”Kalau hari ini saya hilang, pasti ada yang kehilangan dan menangisi kepergian saya.”

Kategori ketiga, kemampuan kita mengendalikan diri sendiri, pekerjaan/sekolah (kinerja), kemandirian, dan pengambilan risiko (perubahan). Kelompok terakhir ini dapat disimpulkan dengan pernyataan ”saya bisa mengendalikan dorongan-dorongan liar dalam jiwa saya”, ”saya punya prestasi”, ”saya cukup punya otoritas”, serta ”kalau menjadi lebih baik, mengapa takut menghadapi perubahan”.

Permasalahan mendasar adalah apakah Orangtua dan guru memiliki kemampuan menciptakan 10 elemen di atas dengan baik dan benar?

Orangtua dan guru pasti memiliki kemampuan itu tetapi harus digali dan dikembangkan dengan seksama. Butuh kepemimpinan, keteladanan, pengorbanan, pengabdian dan ketulusan hati yang luar biasa.

Jika semua Orangtua dan guru mempunyai visi yang sama, besar kemungkinan anak didik bangsa menjadi generasi masa depan yang berakhlak mulia dan mampu menghadapi tantangan masa depan.

Mari kita bersatu hati menciptakan lingkungan belajar yang diidamkan anak didik kita.

 

Sumber:

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/07/03214961/pendidik..bukan.pemburu 12.00 WIB

Ditulis dalam orangtua dan guru | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Gaya Belajarku

Ditulis oleh iwanhendrawan di/pada 4 Maret 2009

Gaya belajar adalah cara kita mempelajari sesuatu lebih mudah, menyenangkan, efektif dan efisien dibandingkan cara lainnya. Juga,

Gaya belajar adalah cara yang cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi tersebut. Juga, 

Gaya belajar adalah cara yang cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi tersebut

Gaya belajar ada 4 yaitu :

1. Visual yaitu belajar dengan cara melihat materi pembelajaran yang sedang dibicarakan.

Ciri-ciri gaya belajar visual :

Bicara agak cepat

Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi

Tidak mudah terganggu oleh keributan

Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar

Lebih suka membaca dari pada dibacakan

Pembaca cepat dan tekun

Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata

Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato

Lebih suka musik dari pada seni

Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya

 

2. Auditori yaitu belajar dengan cara mendengar, berbicara pada diri sendiri dan juga mendiskusikan ide dan pemikiran pada orang lain.

Ciri-ciri gaya belajar auditori :

Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri

Penampilan rapi

Mudah terganggu oleh keributan

Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat

Senang membaca dengan keras dan mendengarkan

Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca

Biasanya ia pembicara yang fasih

Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya

Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik

Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual

Berbicara dalam irama yang terpola

Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

 

3.  Tactile yaitu belajar dengan cara menyentuh atau merasakan sensasi di kulit dengan menggunakan tangan atau jari jemari materi pembelajaran yang sedang dibicarakan.

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :

mencatat dan menuliskan kembali segala hal yang dilihat, dibaca, dan didengar, baik melalui buku, diari maupun pada komputer.

membuat sketsa, gambar, diagram-diagram, bagan alur pikir atau membuat patung, model dan boklet-boklet artstik dari segala sesuatu yang pernah mereka lihat, baca atau dengar.


4. Kinestetis belajar dengan menggerakan otot-otot tubuh dan secara aktif terlibat dalam suatu kegiatan seperti simulasi atau eksperimen tentang materi pembelajaran yang sedang dibicarakan.

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :

Berbicara perlahan

Penampilan rapi

Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan

Belajar melalui memanipulasi dan praktek

Menghafal dengan cara berjalan dan melihat

Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca

Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita

Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca

Menyukai permainan yang menyibukkan

Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu

Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi

 

Sehingga murid dapat menguasai teori dan mampu melakukan praktek dengan baik dengan gaya belajar yang sesuai.

Gaya belajar manakan yang sesuai denganmu?

 

sumber:

http://www.ut.ac.id/html/Strategi-bjj/gaya1.htm

http://smp3bdl.blogspot.com/2008/01/cara-belajar-cepat.html

Ditulis dalam belajar cara belajar | Leave a Comment »

Cara Belajar yang Benar

Ditulis oleh iwanhendrawan di/pada 1 Maret 2009

Belajar merupakan hal yang wajib dilakukan oleh murid, siswa dan mahasiswa. Belajar pada umumnya dilakukan di sekolah/kampus ketika jam pelajaran/kuliah berlangsung dibimbing oleh Bapak atau Ibu Guru/Dosen. Belajar yang baik juga dilakukan di rumah baik dengan maupun tanpa PR/pekerjaan rumah.

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.

Interaksi adalah hal saling melakukan aksi, berhubungan, mempengaruhi; antarhubungan. Contoh: interaksi sosial: hubungan sosial yg dinamis antara orang perseorangan dan orang perseorangan, antara perseorangan dan kelompok, dan antara kelompok dan kelompok; interaksi verbal: hubungan antara orang yg satu dan yg lain dengan menggunakan bahasa;
Jika kita melakukan interaksi, artinya adanya kegiatan saling mempengaruhi yang positif dan komunikasi verbal yang mendukung kegiatan sehingga dapat dicapai tujuan yang diinginkan.

Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh pemelajar (peserta didik) dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah pemelajar dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu.

Bentuk kegiatan belajar beraneka ragam tekniknya. Hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan pemelajar. Tentukan dan lakukan satu kegiatan belajar di bawah ini:

1. Belajar Kelompok

Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan karena ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat lebih santai. Belajar kelompok ada baiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar yang tidak pandai jadi ketularan pintar. Dalam belajar kelompok kegiatannya adalah membahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian kelompok belajar baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru.

2. Membuat Catatan Intisari Pelajaran
Bagian-bagian penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas atau buku kecil yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di mana pun kita berada.

3. Membuat Perencanaan Yang Baik
Untuk mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik. Oleh karena itu ada baiknya kita membuat rencana belajar dan rencana pencapaian nilai untuk mengetahui apakah kegiatan belajar yang kita lakukan telah maksimal atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan target pencapaian dengan kemampuan yang kita miliki. Buat rencana belajar yang diprioritaskan pada mata pelajaran yang lemah. Buatlah jadwal belajar yang baik.

4. Belajar dengan Disiplin
Apabila kita telah membuat jadwal belajar maka harus dijalankan dengan baik. Contohnya seperti belajar tepat waktu dan serius tidak sambil main-main dengan konsentrasi penuh. Jika waktu makan, mandi, ibadah, dan sebagainya telah tiba maka jangan ditunda-tunda lagi. Lanjutkan belajar setelah melakukan kegiatan tersebut jika waktu belajar belum usai.

5. Aktif Bertanya dan Ditanya
Jika ada hal yang belum jelas, maka tanyakan kepada guru, teman atau orang tua. Jika kita bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya. Jika bertanya, bertanyalah secukupnya dan jangan bersifat menguji orang yang kita tanya. Tawarkanlah pada teman untuk bertanya kepada kita hal-hal yang belum dia pahami. Semakin banyak ditanya maka kita dapat semakin ingat dengan jawaban dan apabila kita juga tidak tahu jawaban yang benar, maka kita dapat membahasnya bersama-sama dengan teman.

6. Belajar Serius dan Tekun
Ketika belajar di kelas dengarkan dan catat apa yang guru jelaskan. Catat yang penting karena bisa saja hal tersebut tidak ada di buku dan nanti akan keluar saat ulangan atau ujian. Ketika waktu luang baca kembali catatan yang telah dibuat tadi dan hapalkan serta dimengerti. Jika kita sudah merasa mantap dengan suatu pelajaran maka ujilah diri sendiri dengan soal-soal. Setelah soal dikerjakan periksa jawaban dengan kunci jawaban.

Catatan Khusus:

Hindari Belajar Berlebihan
Jika waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya kita akan panik jika belum siap. Sebaiknya ketika akan ujian tetap tidur tepat waktu karena jika bergadang semalaman akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan.

Jujur Dalam Mengerjakan Tes, Ulangan dan Ujian
Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian. Hal ini tidak membuat orang lain bahkan dirimu bangga!

Semoga tulisan sederhana ini memberikan manfaat untuk kita semua, amin.

Sumber:

1. sisdiknas No.20 tahun 2003

2. http://organisasi.org/tips-dan-trik-cara-belajar-yang-baik

3. http://wijayalabs.multiply.com/journal/item/146

Ditulis dalam belajar cara belajar | Leave a Comment »

keSEDERHANAan itu keSEMPURNAan

Ditulis oleh iwanhendrawan di/pada 6 Desember 2007

Jakarta, 061207

Terpikir untuk menjadi sempurna di akhir hidup ini (kalau bisa sebelum menghadap yang Kuasa). Kesempurnaan sepertinya tujuan akhir setiap manusia. Setiap manusia yang terlahir suci tetapi lemah mempunyai harapan besar di masa depannya. Kesempurnaan sebagai manusia.

Menuju sempurna. banyak cara dan kegiatan yang dilakukan manusia untuk menjadi sempurna. satu cara yang saya lakukan adalah percaya pada Allah yang adalah Sempurna dan Suci. Manusia adalah mahkluk peniru, meniru Penciptanya yang Sempurna dan Kudus. sesuatu yang sederhana tetapi “mustahil” karena kita manusia berdosa. Tetapi manusia diberikan akal budi untuk berpikir, hati untuk merasakan, jiwa untuk hidup dan kehidupan dan raga untuk beraktifitas sehingga “dapat” mencapai kesempurnaan itu.

Setelah kesempurnaan tercapai, kesederhanaan mengikutinya. Seorang yang sempurna, seperti Mahatma Gandhi ataupun Yesus Kristus, hidupnya sederhana. Hanya mengenakan pakaian sederhana, tutur katanya sederhana, pikirannya sederhana. Tujuan hidup Yesus Kristus sederhana; memuliakan Allah di dunia dengan menyelamatkan manusia. Kesederhanaan sebagai “gaya hidupnya” yang menjadi teladan.

Kesederhanaan sebagai gaya hidup seorang sempurna.

iwan hendrawan 061207

Ditulis dalam perenungan | 3 Komentar »