ORANGTUA DAN GURU YANG SEHATI
Ditulis oleh iwanhendrawan di/pada 7 Maret 2009
Iwan Hendrawan, Sabtu, 7 Maret 2009, 12.40 WIB
Orangtua sangat menginginkan anaknya berguna bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat atau negara. Hal ini pasti hal paling membanggakan yang dapat dirasakan orang tua. Orang tua berkeyakinan bahwa anak merupakan “aset” mereka yang harus diprioritaskan.
Mereka bekerja untuk membesarkan dan mendidik mereka. Mereka memberikan yang “terbaik” bagi anaknya. Mereka sudah menyiapkan dana pendidikan anaknya hingga perguruan tinggi. Luar biasa persiapan orangtua.
Guru menjadi pihak yang menerima tanggung jawab orang tua untuk mendidik (mengajar) generasi masa depan. Dengan kemampuan dan “keterbatasan” guru, guru menjadi orang tua kedua di sekolah.
Guru di sekolah dikategorikan sebagai guru kelas (Wali Kelas) dan guru mata pelajaran. Wali Kelas mempunyai tanggung jawab “lebih besar” dibanding guru bidang studi. Wali Kelas harus mengenal siswa-siswinya. Dia harus memotivasi, mendampingi, dan memantau perkembangan akademis siswanya. Karena saat rapor dibagikan, orangtua murid akan menanyakan banyak hal tentang anaknya. Bagaimana kemajuan anaknya. Dan hal-hal kecil lainnya sehingga orangtua puas dan merasa mengenal anaknya jika berada di sekolah. Guru bidang studi biasanya hanya memantau nilai akademis siswa-siswinya. Hal ini dikarenakan tatap muka yang singkat tiap bulannya dan hanya diminta menyerahkan nilai untuk diolah dalam buku rapor.
Belajar dari kasus David H Wijaya, mahasiswa pintar asal Indonesia, tewas di Nanyang Tech University, Singapura, Rhenald Kasali Pengajar di Universitas Indonesia, menekankan 10 elemen yang harus dipunyai anak saat ia masuk sekolah/kampus, yaitu:
1. percaya diri,
2. rasa nyaman,
3. kontrol diri,
4. cinta,
5. otonomi,
6. keluarga,
7. rasa adil,
8. kinerja,
9. perubahan, dan
10. kepercayaan (trust).
Elemen-elemen itu dapat dibagi tiga:
1. rasa percaya,
2. hubungan personal, dan
3. pengendalian hidup.
Ketiganya memengaruhi tingkat kecemasan, pengambilan keputusan, asumsi terhadap orang lain, ketenangan/kecemasan, dan keberhasilan hidup.
Kategori pertama diwakili oleh percaya diri dan perasaan bernilai, percaya kepada orang lain, dan merasa diperlakukan adil. Monolognya mengalir dalam pernyataan seperti ”saya cukup bernilai”, ”mereka dapat dipercaya”, ”mereka memperlakukan saya dengan adil”.
Kategori kedua, kenyamanan, cinta (love), dan keluarga (belonging). Orang-orang yang hidupnya seimbang cenderung penuh cinta dan ada yang memikirkan. Kata mereka, ”Kalau hari ini saya hilang, pasti ada yang kehilangan dan menangisi kepergian saya.”
Kategori ketiga, kemampuan kita mengendalikan diri sendiri, pekerjaan/sekolah (kinerja), kemandirian, dan pengambilan risiko (perubahan). Kelompok terakhir ini dapat disimpulkan dengan pernyataan ”saya bisa mengendalikan dorongan-dorongan liar dalam jiwa saya”, ”saya punya prestasi”, ”saya cukup punya otoritas”, serta ”kalau menjadi lebih baik, mengapa takut menghadapi perubahan”.
Permasalahan mendasar adalah apakah Orangtua dan guru memiliki kemampuan menciptakan 10 elemen di atas dengan baik dan benar?
Orangtua dan guru pasti memiliki kemampuan itu tetapi harus digali dan dikembangkan dengan seksama. Butuh kepemimpinan, keteladanan, pengorbanan, pengabdian dan ketulusan hati yang luar biasa.
Jika semua Orangtua dan guru mempunyai visi yang sama, besar kemungkinan anak didik bangsa menjadi generasi masa depan yang berakhlak mulia dan mampu menghadapi tantangan masa depan.
Mari kita bersatu hati menciptakan lingkungan belajar yang diidamkan anak didik kita.
Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/07/03214961/pendidik..bukan.pemburu 12.00 WIB
